Peresmian Bukit Kukus Sebagai Wisata Alam Di Kota Mentok




BANGKA BARAT — Potensi alam Bukit Kukus di Desa Air Belo, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, mulai diarahkan menjadi salah satu tujuan wisata daerah. Kawasan tersebut resmi diperkenalkan kepada publik melalui kegiatan peresmian Bukit Kukus sebagai Wisata Alam pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Bangka Barat Fachriansyah, S.IP., M.Si., bersama unsur pemerintah daerah, masyarakat, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Kukus.

Bagi pemerintah daerah, pembukaan ini merupakan langkah awal untuk memperluas pengembangan pariwisata di Kecamatan Mentok. Namun, keberadaan Bukit Kukus sebagai destinasi baru juga membawa tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan wisata, lingkungan, dan masyarakat.

Fachriansyah menilai panorama alam nampak sangat luar biasa cantik. Potensi Bukit Kukus tidak seharusnya berhenti pada panorama alam. Kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata yang mempertemukan unsur alam, sejarah, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.

Adapun telah di pasang informasi tata tertib pengunjung di kawasan Bukit Kukus

TATA TERTIB MENGUNJUNGI WISATA ALAM BUKIT KUKUS

* **SETIAP PENGUNJUNG WAJIB MELAPOR DAN MENGISI BUKU PENGUNJUNG.**

* **SETIAP PENGUNJUNG WAJIB DALAM KONDISI SEHAT JASMANI DAN ROHANI.**

* **DILARANG MEMBUAT JALUR SENDIRI.**

* **DILARANG MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN.**

* **DILARANG MEMBAWA SENJATA TAJAM DAN SENJATA API.**

* **DILARANG MEMBAWA DAN MENGKONSUMSI MINUMAN KERAS DAN OBAT-OBATAN TERLARANG.**

* **DILARANG BERBUAT MESUM.**

* **DILARANG MENEMPELKAN STIKER, PLAKAT ATAU SEJENISNYA TANPA IZIN.**

* **DILARANG MELAKUKAN TINDAKAN MERUSAK SPOT FOTO, POHON, TEMBOK DAN BATU.**

**TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN DAN KERJASAMANYA**

**NARAHUBUNG:**

Ketua Pokdarwis (0857-0934-5263)

Salah satu potensi yang dapat dikaitkan dengan kawasan tersebut adalah Jembatan Inggris. Wisatawan nantinya tidak hanya diajak menikmati suasana bukit, tetapi juga memperoleh informasi mengenai sejarah dan perkembangan kawasan di sekitarnya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat kunjungan wisata menjadi lebih bermakna. Pengunjung tidak sekadar datang untuk melihat pemandangan atau mengambil gambar, tetapi juga memahami cerita yang melekat pada tempat yang mereka datangi.

Aspek pendidikan lingkungan mulai diperkenalkan melalui pemanfaatan teknologi sederhana. Sejumlah pohon di kawasan Bukit Kukus akan dilengkapi barcode yang dapat dipindai oleh pengunjung.

Melalui barcode tersebut, pengunjung dapat memperoleh informasi mengenai jenis pohon dan manfaatnya. Cara ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat, terutama generasi muda, mengenai tumbuhan dan pentingnya menjaga kawasan hijau.

Konsep tersebut sekaligus membuka peluang agar wisata alam memiliki fungsi pendidikan. Pepohonan yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari lanskap dapat dikenali lebih jauh oleh pengunjung sebagai bagian penting dari lingkungan.

Pengembangan Bukit Kukus juga diarahkan agar aktivitas wisata memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

Salah satu gagasan yang muncul adalah memanfaatkan lahan warga di sekitar kawasan untuk pengembangan tanaman buah. Apabila dikelola dengan tepat, kebun tersebut dapat menjadi lokasi wisata petik buah sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pemilik lahan.

Wisatawan nantinya berpotensi memiliki pilihan aktivitas yang lebih beragam. Setelah menikmati kawasan bukit, mereka dapat mengunjungi kebun masyarakat, membeli produk pertanian, menikmati makanan lokal, maupun membawa hasil pertanian sebagai oleh-oleh.

Dengan pola seperti itu, manfaat ekonomi pariwisata dapat menyebar lebih luas. Bukan hanya pengelola destinasi yang memperoleh pendapatan, tetapi juga petani, pelaku UMKM, pedagang, pemilik lahan, dan masyarakat lainnya.

Fachriansyah juga menilai kreativitas masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam membangun daya tarik wisata. Ia mencontohkan pengembangan destinasi di Belitung yang mampu menjadikan barang sederhana sebagai objek wisata dan menghasilkan nilai ekonomi yang besar.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan destinasi tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal. Ide kreatif dan kemampuan membaca potensi lokal dapat menjadi modal penting dalam menarik wisatawan.

Peresmian Bukit Kukus menjadi awal dari proses yang lebih panjang. Tantangan berikutnya adalah membangun sistem pengelolaan yang mampu mempertahankan keindahan alam sekaligus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Video selengkapnya dapat mengunjungi Instagram Kami disini