Penyerahan Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) Kesenian Musik Tradisional “Belatik”




Kesenian musik tradisional “Belatik” Datok Senai suku Jering Dusun Peraceh, Desa Air Menduyung, Bangka Barat, Prov. Kep. Bangka Belitung menerima Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).

Penyerahan Sertifikat bertepatan pada perayaan tahunan Sedekah Bumi, digelar pada Kamis malam, (23/04/26).

Datok Senai selaku pemain utama Biola musik tradisional “Belatik” menerima langsung penghargaan sertifikat bersama istri tercinta.

Penyerahan Sertifikat (WBTBI) tahun 2025 diserahkan langsung oleh Kabid Kebudayaan Disparbudkepora Prov, Kep Bangka Belitung, Martini, beserta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat Fachriansyah, Camat Simpangteritip Darmawi, dan disaksikan ratusan masyarakat Desa Air Menduyung pada acara Sedekah Bumi.

Kesenian musik Belatik merupakan perpaduan unsur instrumen dan vokal yang khas dan menjadi bagian dari kekayaan budaya di Kepulauan Bangka Belitung dari Dusun Peraceh, Desa Air Menduyung, Simpangteritip.

Kesenian Belatik merupakan “nyanyi duduk”, para pemain mengekspresikan bernyanyi sambil duduk memadukan vokal dengan gesekan biola, gendang dan ketawak kayu.

Cerita Belatik adalah Kidung dari Langit Malam Masyarakat Jerieng. Dahulu, di bawah cahaya bulan purnama, seorang perempuan bernama Nek Uling sering bersenandung di tengah sawah sambil menatap indahnya bintang Belatik.

Dari kesederhanaan itulah, kesenian Belatik lahir sebuah harmoni yang menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur, pelipur lara, hingga media spiritual bagi masyarakat Jerieng.

Belatik menjadi kesenian tradisional masyarakat Jerieng menjadi hiburan saat mereka “berume” (bercocok tanam). Warga akan berkumpul untuk mendengarkan alunan musik Belatik sambil mengobrol, bercerita tentang sawah atau ladang, tentang musim atau hewan-hewan mengganggu tanaman dan cerita lain dalam kehidupan sehari-hari.

Kesenian Belatik selain sebagai pelepas penat dan hiburan, kesenian Belatik ini juga dimainkan pada acara perayaan-perayaan kampung warga Suku Jerieng, kesenian ini juga menjadi pelengkap acara adat berperan sebagai penghibur arwah nenek moyang yang tinggal di kampung mereka, agar tidak mengganggu dan membawa malapetaka bagi warga.